Tampilkan postingan dengan label Sosial Kebangsaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Kebangsaan. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Juni 2018

Kesempitan Epistimologi

Bukan Prabowo maka Jokowi. Bukan Partai Tuhan maka Partai Setan. Bukan Islam maka kafir. Tidak bela Palestina maka tidak Islam. Bukan Sunni maka Syah. Jika Khilafah maka anti Pancasila. Bukan Kapital maka Komunis. Bukan NU maka Muhammadiyah. Bukan Amerika maka Cina. Bukan 1 maka 2, bukan 2 maka 1.

Kita sudah bisa menerka, kemana arah masa depan masyarakat Ilmiah ketika kesimpulan2 di atas secara sadar atau tidak menjadi pijakan bernalar manusia pada umumnya. Hebatnya lagi, kesempitan epistimologi seperti ini lebih sering kita jumpai di layar kaca atau media2 pemberita. Diucapkan dgn gamblang oleh orang2 yang di cap sebagai pemimpin. Mereka menunjukkan bahwa fundamentalisme bukan hanya menjangkit agama, namun mereka jg yang fundamental terhadap opini masing2 yg berujung pada sakralisasi ibarat mitos. Akhirnya para penikmat yang malas berpikir namun banyak berbicara secara diam2 digerogoti kesempitan itu.

Opini dengan mudah dijungkirbalikkan, orang pintar berbicara sesuai pesanan, meraup popularitas dgn mempermainkan iman. Sampai2 Kata "Tuhan" menjadi kemehahan perseorangan. Hidup menjadi sebatas hitam dan putih, sedang masih banyak kemungkinan adanya warna2 yang lain. Hidup hanya sebatas iman dan kafir, sedang masih ada munafik, fasik, dll.

Setelah 35 tahun berpuasa, beginikah cara generasi orba berbuka?

Minggu, 25 Maret 2018

Indonesia Bubar 2030?

Yang sedang "menikmati" Indonesia pasti akan mengatakan itu hanya fiksi. Yang sedikit bijak menasehati kita harus waspada. Yang diluar sana lagi berpangku tangan mengamati, respon Indonesia bagaimana?

Bubar? Bukankah kata bubar hanya untuk dilekatkan pada sesuatu yang sebelumnya padat dan menyatu? Lalu tepatkah kata ini untuk Indonesia? Yang menyatu yang mana? Lalu yang bubar yang mana? Rakyatnya? Tanah kekuasaannya? Kekayaan alamnya? Nilai masyarakatnya? Atau grup bandnya? YANG MANA?

Percuma, menyatukan atau membubarkan Indonesia sama saja, toh sampai sekarang mereka betul2 nda paham Indonesia itu yang mana? Kalau yang mereka sebut Indonesia adalah yang hari ini? Dimana rakyatnya tak berdaulat, dimana tanah airnya tak lagi diperlakukan seperti Ibu, dimana pemimpinnya bermental pengemis, nilai2 masyarakat dijungkirbalikkan, Aku sarankan jangan menunggu 2030 untuk bubar.

Mungkin disitulah dengan tegas dan penuh percaya diri mereka mengatakan bahwa itu hanya fiksi. Bukan di kata "Bubar"nya, tapi untuk "Indonesia"nya.

Selasa, 09 Januari 2018

Bagaimana aku harus peduli?

Di kedai kopi, Cidut sedang fokus menonton berita di televisi tentang aksi yg dilakukan sebagian besar umat Islam di Jakarta, mereka menuntut agar oknum si penghina agama Islam segera dipenjarakan. Salah satu pimpinan aksi berorasi "saudara2 sekalian, kt berkumpul di tempat ini karna kita peduli dgn agama Islam, cinta agama Islam" orator itu menutupnya dengan berteriak takbir. Tiba2 temannya yg jg orang Jakarta menyela, "peduli apanya?, saya sekarang di Makassar krn mengadu nasib, rumahku digusur pemerintah yg bekerja sma dgn swasta, penghidupanku di teluk Jakarta berhenti karna reklamasi teluk Jakarta. Hasil laut sudah tidak ada, mereka yg senasib dgnku semuanya Islam, kami merasa dihina, tapi tdk pernah mereka yg di TV itu datang untuk membela, mengapa mereka tdk marah seperti marahnya hari ini? Mudah2an mereka tdk menganggap kami bukan bagian dr Islam". Cidut hanya terdiam.

Cidut lalu memeriksa HPnya yg bergetar, ternyata ada pesan singkat dr temannya di sebuah grup WA yg isinya tentang ajakan untuk peduli Muslim Rohingya dan Palestina sebagai saudara yg membutuhkan pertolongan. Bisa berupa pakaian, uang, ataukah beras, dan akan dibantu oleh pemerintah. Ia kemudian meneruskan pesan itu ke grup WA lainnya. Tapi salah satu temannya dr Papua berkomentar "kami sangat bersyukur dgn masyarakat Indonesia yg peduli, tapi salahkah jika kami cemburu? Kami slalu dikatakan terbelakang, makanan kadang tak cukup, adek2 kami jarang yg memakai pakaian. Tapi tdk pernahkah anda peduli seperti pedulinya anda ke mereka. Semoga kami tetap dianggap saudara". Cidut lagi2 tak mampu membalas.

Di perjalanan pulang ke rumah, ia mendapati jalanan macet akibat aksi LSM yg memprotes kegiatan Kongres Ormas terbesar di Indonesia yg menghabiskan dana APBN 5 Miliar hanya dalam 3 hari. Ormas berpendapat bahwa sebaiknya dana sebesar itu digunakan untuk bantuan masyarakat sekitar yg nyatanya sangat membutuhkan. Pimpinan Ormas mencoba menemui massa aksi, ia mencoba untuk membela diri "kami datang berkumpul disini dri seluruh pelosok tanah air, selama 3 hari kami merembukkan solusi dr permasalahan bangsa hari ini. Kalau anda berpikir sperti itu sama saja kalau kita katakan, lebih baik pemerintah tdk usah bangun sekolah, kantor, rumah sakit, atau biaya kunjungan luar negri. Mending semuanya untuk bantuan ke masyarakat". Hanya itu yg sempat Cidut simak krna segera ia melewati kemacetan itu.

Ia pulang ke rumah dgn membawa sekelumit pertanyaan. Tak lama berselang stelah ia sampai di rumah datang seorang ibu sambil menggendong anaknya yg masih kecil. Ibu itu memohon kepada Cidut "nak, kasihani kami. Berapapun uang atau apapun yg bisa disumbangkan kepada saya". Ibu Cidut yg jg melihat pengemis itu segera masuk ke dapur mengambil beras dan memasukkannya ke kantongan untuk disumbangkannya ke pengemis itu. "Kami tdk punya uang, tapi hanya ini yg bsa kami sumbangkan. Semoga bermanfaat untuk kamu dan anakmu" Ucap ibunya. Stelah berterima kasih pengemis itu kemudian pergi.

Seketika Cidut merasa menemukan jawaban dr keresahannya. Ia menceritakan semua peristiwa yg dilalaluinya hari ini kepada ibunya. Ibunya kemudian berpesan, "Nak, hidup ini kompleks. Pengemis td adalah contoh kemiskinan rakyat kita. Seharusnya menjadi kewajiban dan tugas dr pemerintah untuk memberi solusi. Kalau orang kecil seperti kita apakah wajib atau bertugas membantu? Kita memang tdk wajib tapi bukan berarti tidak boleh membantu. Pedulilah sesuai ukuran kemampuan kita. Yg salah adalah ketika itu tugas dan tanggung jawab kita dan mampu namun kita tdk perduli. Tdk salah jika kamu membela Islam, membela yg di gusur, membela Rohingya dan Palestina, membela Papua, ataukah membela rakyat miskin selama itu tugas kamu dan mampu. Maka itu jadilah pmimpin bangsa agar kamu bisa memikirkan semuanya. Jangan hanya meresmikan infrastruktur atau bagi2 sepeda, krn tugas seperti itu yg bukan pmimpin pun bisa."


Senin, 08 Januari 2018

Memanusiakan Manusia??

Cidut anak desa. Dibesarkan dr orang tua yg tdk mengenal sekolah. Namun orang tuanya tdk mau Cidut seperti mereka.

Alhasil Cidut disekolahkan dr SD sampai SMA di sekitar rumahnya. Cidut bertanya, ya tujuannya sekolah apa? Orang tuanya menjawab, supaya kamu jd anak yg berpendidikan, pintar, baik, dan bisa jadi anak yg berguna. Begitulah harapan orang tua pada umumnya.

Singkat cerita, begitu mudah Cidut memperoleh peringkat pertama mulai dri SD sampai SMA. Dia menjadi siswa yg dipuji, baik dr guru, orang tua, bahkan penduduk desa.

Tpi ada yg membuat Cidut risih, dia merasa menjadi siswa yg mendapat perlakuan spesial. Mulai dri mendapatkan perhatian guru yg berbeda dr teman lainnya. Begitu pula masyarakat. Dia merasa tidak enakan dgn teman kelasnya yg dianggap bodoh sehingga kadang diacuhkan, bahkan tidak sedikit dari temannya yg dikeluarkan atau diberhentikan. Entah itu krna alasan tdk mampu bersaing ataukah karna kenakalannya. Maka sekolah swasta adalah tempat pelarian temannya yg terbuang, dimana ijazah dapat didapatkan dgn jalan instan. Diperparah dgn penduduk desa yg melarang anaknya bergaul dgn mereka yg terbuang, dianggapnya mereka seakan2 sampah masyarakat.

Keresahan Cidut memuncak pada saat dia mengikuti tes untuk masuk SMA, teman baiknya tidak diterima lantaran nilai tesnya tidak memenuhi syarat. Krn terlanjur minder dan merasa bodoh, orang tua temanx memutuskan untuk segera menikahkannya dan membantunya bekerja.

Cidut mulai berpikir, jikalau sekolah seperti yg digambarkan orang tuanya, lantas mengapa yg dianggap nakal dan bodoh diacuhkan? Bukankah memang tugasnya sekolah untuk memanusiakan manusia? Jikalau teman2x diacuhkan, baik sekolah atau masyarakat, siapa yg harus memperhatikan mereka? Ataukah sekolah memang hanya berlomba2 mencari nama baik sehingga yg berpotensi merusak citra sekolah harus ditolak?

Dia mulai bertanya2, yg manakah betul2 sekolah? Ada yg dengan biaya mahal dgn iming2 keluaran siswanya lebih unggul. Bagaimana dgn yg miskin? Apakah mereka krna keterbatasan akses pendidikan sehingga tdk bisa diakatakan unggul? Cidut hanya bergumam. Tak berani ia bercerita.

Karna merasa anaknya cerdas, orang tua Cidut memutuskan untuk melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi terkenal. Cidut hanya menurut apa yg diingini orang tuanya.

Tapi bukan Cidut kalau dalam pikirannya tidak slalu bertanya2. Salah satu dosennya yg jg Profesor terkenal sering bercerita di sela2 perkuliahan, bahwa IPK lulusan2 terdahulu bahkan dosen2 yg mengajar saat ini hanya sedikit yg mampu mencapai angka 2,50. Beda halnya dengan lulusan2 saat ini yg bahkan sampai 4.00. Cidut mulai heran, apakah dgn angka itu dia bsa berkesimpulan bahwa mahasiswa kini lebih cerdas dr Profesor atau dosennya saat mereka masih mahasiswa? Seharusnya dgn angka itu jawabannya adalah iya. Namun Cidut belum begitu yakin.

Sering sekali Cidut membaca informasi dunia kerja yg mencamtumkan IPK minimal 3,0 sbgai persyaratan untuk diterima. Apakah itu di perusahaan2, di Bank, tenaga pendidik, beasiswa S2, ataukah di instansi pemerintah. Cidut mulai bertanya2 kepada para orang tua atau mereka yg telah lebih dlu bekerja. Apakah aturan itu telah ada sejak dulu ataukah baru beberapa tahun berlaku? Jawabnya adalah baru beberapa tahun.

Cidut sangat tertampar, jangan2 nilai lulusan hari ini hanya tergantung dr pesanan dunia kerja. Karna dunia kerja menerapkan standar, akhirnya universitas pun harus mengikuti standar. Kapan tidak mengikuti, berarti sama sja membiarkan lulusan mereka tidak mampu bersaing dgn dunia kerja yg tentunya akan berimbas pada nama baik universitas. Bisa2 akreditasi diturunkan, dan peminat mulai berkurang. Sehingga Cidut berani bertaruh, jika saja dunia kerja menetapkan standar 4,0 sbagai persyaratan, yakin dan percaya lulusan pun rata2 akan keluar dgn IPK 4,0. Cidut mulai tdk percaya dgn angka yg didapatkannya selama ini. Baik itu saat SMA ataukah saat kuliah. Jangan2 angka itu bukan murni karna kualitas dirinya, tapi semata2 karna persolan nama baik sekolah dan universitas.

Tapi Cidut hanya menerka, ia belum begitu yakin dgn kesimpulannya. Meski terus diserang idealisme dalam dirinya, ia tetap melanjutkan studinya, kalaupun sekolah tidak menjadikannya manusia, paling tidak ia ingin membahagiakan orang tuanya, syukur2 kalau dapat kerja. Menurutnya hanya itulah tujuan sekolah hari ini. Memanusiakan manusia? Mari kita bermimpi


Selasa, 31 Oktober 2017

Belajar dari Teloris dan Hate'i

Jokoji punya ratusan anak di Istanya yang sangat megah, namun diantara ratusan itu, ada 2 anak yang paling mencolok, Namanya Teloris dan Hate'i. Dua-duanya sama lulusan Universitas Timur, namun Hate'i sedikit berbeda karna banyak membaca referensi dari Barat. Mungkin inilah yang membuat mereka mencolok di antara saudara2nya yang hanya lulusan Univ. Nusantara.

  Teloris dan Hate'i slalu membawa makanan khas dari luar negeri tempat  dimana mereka kuliah untuk di santap bersama. Saudara2x tentu menikmati dan ketagihan, bagaimana tidak? Selain membuat perut mereka kenyang, makanan itu memberi sensasi seakan-akan mereka berada di suatu tempat indah dimana semua keinginan bisa terkabulkan. Namun bahayanya, tak sedikit dari mereka saling membunuh karna tak mampu untuk mengontrol diri.

   Tapi semua itu tak berlangsung lama, sang Ayah pun kemudian tahu kelakuan anaknya setelah mendapat laporan dari pembantunya, Mpo Lisi. Jokoji tentu geram, ia kemudian menyita dan melarang makanan itu ada lagi di rumah. Bahkan tak segan2 Jokoji mengusir Teloris dan Hate'i dari rumah karna dianggap merusak kesehatan saudara2nya sehingga takut rumah tangganya akan hancur.

   Selang 1 minggu kemudian. Cidut, anak angkat dan tertua diantara mereka protes kepada ayahnya. "Ayah, sudah 1 minggu adik2 saya kelaparan, semua makanan telah engkau sita, sedang engkau sendiri tak memberi kami makan. Apakah engkau ingin melihat kami mati kelaparan?" tuntut Cidut.

    "Siapa bilang? Kau sebut apa Kacang Sila itu yang sejak kecil kalian makan. Bahkan sampai 1 minggu terakhir kalian tetap kuberi makan dengan itu" bantah Jokoji.

     "makanan apa?" kata Cidut "Kacang Sila yang merupakan resep makanan legenda keluarga itu tak bisa Ayah hidangkan. Bahkan Ayah sendiri tak tahu cara mengolah dan memakannya. Apalagi kami? Selama ini Ayah memang hanya setengah hati memberi kami makan. Kacang Sila itu mau tak mau, terpaksa kami makan mentah-mentah. Akibatnya apa? Gizi dan nutrisinya tidak tercerna dengan baik. Lihatlah tubuh kami yang kurus dan kering ini. Kita ini keturunan Garuda Yah!! Bukan keturunan perkutut!! Makannya pun ya harus makanan Garuda!!. Dengan tergesa-gesa Ayah mengusir Teloris dan Hate'i yang memberi adik2ku makan. Sedang Ayah tak mampu memberi kami makanan alternatif. Meskipun aku tidak suka dengan makanan yang dibawa Teloris dan Hate'i, namun aku salut dengan mereka. Salut dengan militansinya, salut dengan keyakinan akan kelezatan makanan yang dia bawa, salut dengan metodologi dan strateginya mendoktrin kami dari kamar ke kamar, salut dengan konsistensi dan pendiriannya. Jadi wajar saja jika sebagian dari saudaraku memilih ikut dan meninggalkan menu Kacang Sila. Dari sudut pandang ini Teloris dan Hate'i lebih mulia dibanding Ayah dan saudara2 ayah yg tak jelas karakter dan pendiriannya. Bukan hanya itu, Ayah terlalu naif menyebut semua ini karna ingin menyelamatkan rumah tangga. Sedang Ayah tahu bahwa saudaraku Senokrat telah mencuri barang2 rumah ini, Pakde Ipe telah menjual aset2 rumah ini, Om Jolkar sering menerima suap dari tetangga, kalau untuk kebaikan rumah tangga, mengapa Ayah tidak mengusir mereka juga? Apa perlu saya sebut yang lain? Jangan lantaran mereka masih mendengar perintah lalu Ayah ragu mengusirnya. Atau jangan2 Ayah memang sudah tidak perduli lagi dengan kami dan rumah tangga ini? Kalau begitu mending kita bubar saja."

   Jokoji hanya bisa terdiam mendengar keluhan Cidut. Namun jangan kira Jokoji akan berubah. Ia terlalu angkuh sebagai orang tua untuk mendengar Cidut dan mencontoh keteladanan Teloris dan Hate'i untuk membumikan Kacang Sila.

    Kacang Sila adalah adalah makanan. Jika diolah dengan baik, tak perlu kita utarakan kelezatannya. Ia akan terlihat dari jiwa, tubuh, dan pikiran yang sehat bagi penikmatnya. Dengan begitu ia tak perlu lagi dipasarkan. Orang2 lah yang akan mencari. Tapi ingat, ini hanya terjadi di Negeri Dongeng.


Minggu, 29 Oktober 2017

Terpenjara Kata

   Aku bukan ahli bahasa, bahkan berbahasa saja masih susah, mungkin ini alasan mengapa aku resah. Aku pemuda yang terlalu bodoh untuk mengerti kata, apalagi makna. Tidak seperti dengan manusia-manusia lain yang dengan mudah menerima, mencerna, dan memakainya.
   Islam, kafir, khilafah, syar'i, sampai pribumi. Siapa pencipta kata ini? Siapa yang memberi makna kata ini? Apakah dia ciptakan kata ini menjadi milik sekelompok tertentu? Apakah dengan tujuan yang mulia atau memang alat perselisihan yang sangat ampuh?
     Kata di atas hanyalah beberapa contoh dari sekian banyaknya kata yang sering menjadi bahan perselisihan. Meskipun kata itu sendiri sebenarnya tidak ingin diperselisihkan. Ada yang saling menghujat, saling sikut, bahkan sejarah membuktikan ratusan ribu nyawa melayang hanya karna berbeda memaknai kata.
    Dalam konteks keIndonesiaan tidak jauh berbeda, akhir-akhir ini gejala sosial memberi isyarat sejarah kelam peradaban akan terulang. Ormas, lembaga, kelompok, bahkan pemerintah, saling unjuk kekuatan untuk berebuk hak penggunaan kata, kalau perlu akan dipatenkan berdasarkan penafsiran mereka.
   Islam misalnya, hanya karna sekelompok kecil yang melakukan aksi teror, maka dunia telah mengganggap Islam agama intoleran. Hanya karna yang memakai cadar dan bejenggot itu lebih syar'i maka yang diluar dari itu tidak mengikuti syariat. Hanya karna numpang tinggal dan ber-KTP Indonesia lantas menyebut diri mereka pribumi. 
   Celakanya, di tengah gejala ini tak sedikitpun dibarengi sikap kedewasaan dan keterbukaan dalam menerima kebenaran. Siapa yang mengklaim kata Islam dengan lantangnya menyebut yang lain bukan Islam. Siapa yang lebih menyebut dirinya Syar'i dengan bangganya menyebut yang lain tidak Syar'i bahkan saling mengkafirkan. Ada pula yang masuk kelompok tertentu agar bisa disebut syar'i dan tidak ingin dituduh kafir. Alih-alih menggaungkan kebebasan berpendapat justru malah membuat masyarakat terpenjara. Mungkin ini salah satu bukti bahwa kita slalu meminta kebebasan namun belum siap menerimanya.
     Sekali lagi kukatakan bahwa aku terlalu bodoh untuk cepat mengerti dan memaknai kata, apalagi memakainya. Sehingga aku tidak berani menyebut diriku Islam, syar'i, pribumi, apalagi mengkafirkan orang lain. Bahkan sekalipun aku mengerti, tetap saja aku tidak berani menggunakan kata yang menjadi hak preogratif Tuhan itu.
      Karna itu, sudah saatnya ahli bahasa mengambil mimbar dan memberi kejelasan. Mimbar yang memberi pesan kemanusiaan bukan pesan kebencian. Inilah saat dimana mereka memang harus banyak berbicara dan memberikan pencerdasan kepada masyarakat. Tugas merekalah untuk meluruskan kata dalam menerjemahkan pesan Tuhan untuk meraih kemaslahatan dan menjegah kemungkaran. Jadilah satpam kata, sebelum kata itu kehilangan makna.
    


Minggu, 08 Oktober 2017

Mak, Cidut tak Mau Dewasa

     "Mak, Cidut tak mau dewasa" keluh Cidut sambil memeluk Emaknya. "Dut, kamu waras nak?" Balas Emaknya yang heran dengan perilaku Cidut yang tak biasa. Cidut pun tidak menjawab dan terus memeluk Emaknya.

      Cidut lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga dan masyarakat pedesaan yang masih memegang teguh tata krama kemanusiaan. Tak ada istilah kamu anak siapa, asalkan kamu berbuat salah semua orang tua di desa berhak menegurmu bahkan sedikit memberi cubitan. Dan hal ini lumrah diterima oleh semua penduduk desa. Beda halnya dengan kota di seberang sana, berucap saja kepada anak akan dipidana apabila tidak menyenangkan si anak, apalagi kepada anak orang lain. Karna malu ketika anaknya berbuat salah dan ditegur maka setiap orang tua di desa itu sangat disiplin dan berhati-hati dalam mendidik anak, tak terkecuali orang tua Cidut. Olehnya itu pendidikan di lingkup keluarga sangat dirasakan oleh semua anak-anak seperti Cidut.
 
     Namun apa yang meresahkan Cidut? Di kota ini dia melihat adegan-adegan orang dewasa yang tidak biasa ia lihat, ia dengar, dan sangat susah ia terima.
  
      Orang dewasa di kota ini dengan santainya saling berbicara kasar, memanggil dengan sebutan 4njing, a5u, ta1, dan sebutan lainnya yang dianggap akrab. Lebih parahnya lagi Cidut melihat mereka saling menerima dan seakan mesra. Begitu pula ia lihat para wakilnya berdebat silang pendapat mengacungkan tinju di layar kaca. Namun Cidut hanyalah anak desa, yang tahunya harus sopan bertutur kata kalaupun diperlakukan ia harus menegur bukan malah membalas dengan kata yang sama. Tiba-tiba saya teringat dengan perkataan Guru Spritualku, "dalam membalas perbuatan buruk seseorang agama hadir dengan keunikannya tersendiri. Yahudi hadir dengan mewajibkan membalas perbuatan seseorang. Kristiani hadir dengan nasehat "jika pipi kiri ditampar, maka tamparlah pipi kanan". Sedang Islam hadir dengan mengambil jangan tengah, engkau berhak untuk membalas, namun jika engkau bersabar engkau adalah orang yang mulia."

    Orang dewasa di kota itu sangat lihai berbohong dan mencuri, semua untuk tujuan mereka agar cepat tercapai. Meskipun ketahuan, segera mereka intropeksi diri dengan mengatur kembali siasat baru agar bohong dan mencurinya tidak ketahuan lagi. Begitu pula yang ia lihat di layar kaca. Orang dewasa saling meneriakkan kata mutiara untuk berantas korupsi, keesokan harinya mereka terlihat memakai rompi. Bukannya malah meminta maaf dan menyesali, mereka dengan santai melambai-lambai dan berusaha melawan alat bukti. Dunia Cidut menjadi terbalik. Yang salah kadang dipertahankan dan yang berani berkata benar akan dikucilkan. Cidut pun pernah terpaksa berbohong, dengan polosnya ia ketahuan dan segera meminta maaf dan siap untuk dihukum. Sedang yang berani berkata jujur akan dihargai dan disayangi layaknya anak priyai. Mereka menganggap bisa menipu Allah dan Rasulnya, padahal mereka sedang menipu diri mereka sendiri.

     Orang dewasa di kota itu hanya menghargai orang berduit, ia tunduk, peluk, dan tangannya ia cium. Ia lihat dengan mudah orang-orang berduit mulus dalam setiap urusan. Hukuman dan keadilan bisa ia beli. Sedang Cidut sedari kecil tidak diajarkan untuk menghargai orang hanya karna bermateri.

    Orang dewasa di kota itu melihat kuasa adalah segalanya, sehingga dendam seakan-akan menjadi pertarungan yang abadi. Siapa yang berkuasa akan menjebloskan dan berusaha sebisa mungkin menghabisi yang kalah, begitupun drama kembali dipetontonkan ketika yang slama ini kalah menjadi penguasa. Sedang Cidut? Merindukan dirinya sewaktu kecil, memang sering ada perkelahian. Namun dendam tak sedalam itu. Terkadang pagi hari ia berkelahi sore harinya bermain bersama lagi. Tak pernah dendam itu di bawah sampai tidur.

     Pada saat libur Idul Adha, kuliah pun diliburkan. Di perjalanan pulang Cidut teringat dengan perkataan Emak, "Nak, kulepas engkau ke kota, semoga engkau segera dewasa". Cidut pun mulai ragu bisa mewujudkan harapan Emak dari kondisi kota yang dilihatnya. Dalam hati ia bergumam "kalau memang dewasa harus seperti itu, aku lebih baik menjadi anak kecil dengan segala kepolosanku."

     Namun perlahan Cidut mulai mengerti. Dengan terasingkan di tengah keadaan kota itu, ia justru terlatih dan akan dewasa dengan caranya sendiri. Ia akan dewasa tanpa kehilangan kekanak-kanakannya. Dan Emak tak akan pernah kubuat hilang pengharapan. Sesungguhnya hanya orang kafir yang menghilangkan pengharapan dariNya.
    
   

    

   
    
     
     


Jumat, 06 Oktober 2017

Bangkitlah Garudaku

Negeri salah urus.
Negeri salah didik.
Negeri salah tuan.
.
Lihatlah anak-anak Garuda hari ini. Tak tahu siapa yg mengurusnya, ataukah memang ada yg mengurusnya?
Tak tahu kemana harus mencari panutan, karna apakah memang ada yg layak jadi panutan?
Anak-anak Garuda telah DIyatimKAN.
.
Namun ditahun 2019
Anak-anak Garuda akan tumbuh dewasa.
Tepat 5 tahun lamanya mereka berpuasa dari kuasa.
Tepat 5 tahun lamanya mereka bersabar dari makar, dari kudeta, dari revolusi.
.
Di hari itu, Sang Garuda akan berteriak. "Kita ini jelas2 bangsa Garuda, bukan bangsa gagak, bukan pula bangsa perkutut. Maka kami hanya akan mau dipimpin oleh Garuda. Kembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Garuda."
.
Garuda bukanlah pecundang. Bagaimanapun sarangnya rusak ia akan dengan mesra memperbaiki dan tetap tinggal.
Bagaimanapun selama ini dihinakan ia tidak akan berbuat onar. Namun karna mereka telah kelewat batas. Jangankan sesama burung, 9 naga pun akan dia cengkram dan membiarkannya busuk di lautan.


Yang Duluan pun Tertinggal

              “Daerah itu tertinggal”, “manusia itu tertinggal”, “dia tertinggal, aku tertinggal, mereka tertinggal,” semua kalimat-kalimat itu sudah lazim kita dengar dan ucapkan sehari-hari. Namun apakah kita betul-betul mengerti bagaimana itu tertinggal? Benarkah bahwa daerah atau manusia itu tertinggal sebagaimana yang kita tuduhkan? Atau benarkah tuduhan mereka ke anda bahwa anda sedang tertinggal? Atau jangan-jangan mereka yang yang kita tuduh sama skali tidak merasa tertinggal. Jikalau seperti itu kita telah menganiaya mereka dengan menghukumi seseorang tertinggal. Syukur kalau tuduhan itu dia jadikan sebagai motivasi untuk mengejar ketertingglannya kalau tidak maka bisa saja kita telah membuatnya terpuruk dan hilang asa.
                Saya ingin beri analogi begini. Anda sedang berkendara dari Soppeng ke Makassar, sedang teman anda berkendara dari Soppeng ke Palopo. Meskipun teman anda berangkat dan sampai lebih dulu apakah anda merasa tertinggal? Anda bercita-cita menjadi ilmuan sedang teman anda bercita-cita menjadi pengusaha. Apakah anda merasa tertinggal dari teman anda ketika ia telah berduit? Dalam skala lebih besar misalnya, Amerika bercita-cita menjadikan negaranya kekuatan capital terbesar di dunia dengan segala kemewahan bangunan dan infrastrukturnya. Apakah Indonesia akan tertinggal jikalau cita-citanya adalah persatuan dan keadilan social bagi seluruh rakyatnya? Ya kita dan Indonesia akan slalu merasa tertinggal jikalau kita membandingkan diri dengan Negara lain yang jelas-jelas tujuan perjalanan kita berbeda. Itulah sebabnya Indonesia dan Negara-negara Timur lainnya dijadikan Negara tertinggal di dunia jika dibandingkan dengan Negara-negara Barat karna  yang menjadi tolak ukur adalah  Kemehan dan Kekayaan sebuah Negara. Tapi dari segi peradaban, mari kita kembali mempertanyakan siapa sebenarnya yang tertinggal?
                Mulai sekarang berani dan lantanglah bersuara bahwa saya sama sekali tidak tertinggal oleh anda. Indonesia bukanlah Negara yang tertinggal dari Negara anda. Toh kita punya cita-cita dan tujuan yang berbeda. Dengan segala keunikan serta jadi diri saya dan Indonesia justru anda lah yang tertinggal. Berhentilah membanding-bandingkan diri anda dan Indonesia dengan mereka yang diluar sana. Dengan mengubah paradigma kita, maka yang duluan pun akan terus tertinggal.

                

Selasa, 03 Oktober 2017

Bagai Serigala Berbulu Serigala


Bagai Serigala Berbulu Serigala
Fenomena Papa Novanto

Sufyan Tsauri Wahid
Mannuruki, 4 Oktober 2017

                Selalu saja domba-domba buruannya berlari menghindar ketika ia mendekat, namun serigala tak menyerah dan tak habis akal. Segera ia mengatur strategi untuk mengelabui domba-domba. Ia kemudian menutupi dirinya dengan bulu domba dari hasil buruan sebelumnya sehingga terlihat persis sama dengan domba. Akhirnya dengan mudah ia menipu dan menyelinap ke tengah kerumunan domba dan menerkam begitu ada kesempatan. Begitulah ia berkali-kali berhasil mengelabui kawanan domba bahkan si pengembala meski dengan strategi yang sama. Mungkin dari situlah lahir peribahasa “bagai serigala berbulu domba”.

 
biz.